Orang pintar yang tak menyenangkan


Orang pintar yang menyenangkan! Pada generasi sekarang ini, apalagi di era digital yang semakin marak dimana berbagai akses informasi dengan mudahnya dapat kita input, tak heran semakin banyak orang pintar. Orang-orang dengan mudahnya mendapat pengetahuan baru melalui digital. Ibaratnya, tak perlu sewa guru privat, tak perlu membawa buku banyak pun kita masih dapat mengakses pengetahuan melalui internet. Tapi bukan masalah akses yang menjadi perhatian saya saat ini.

Pada sebuah seminar yang pernah saya hadiri, terucap kalimat orang pintar yang menyenangkan dari si nara sumber. Ia berucap, otak anak memiliki bermilyar sel otak. Ia berucap ia cenderung sedih kalau berbicara soal anak. Mengapa?

Anak-anak zaman sekarang di Indonesia sudah diberi beban berlebih. Pada usia TK saja ada tuntutan mahir calistung alias membaca , menulis dan berhitung. Menurutnya, setiap anak pasti bisa diajari calistung karena pada dasarnya semua anak dilahirkan cerdas. Tapi, jika belum saatnya ada syaraf-syaraf tertentu pada otak yang putus atao rusak. Akibatnya, kelak anak akan menjadi orang dewasa yang pintar tapi tak menyenangkan. Otak memiliki tahapan prrkembangan, saat usia 7 tahun otak benar-benar siap menerima pelajaran.

Menurutnya lagi, anak yang diberi beban pelajaran berlebih seperti diajari calistung sampai bisa sebelum usia 7 tahun, kelak akan mengalami depresi. Pada suatu masa, di usia sekolah, ia akan mengalami mandek. Biasanya ia selalu juara kelas, selalu mendapat nilai-nilai keren, maka suatu saat ia akan mengalami hal sebaliknya. Penurunan kualitas belajar, penurunan nilai akademik dan depresi. Sungguh, pengalaman teman saya ada yang seperti ini. Serius!!

Teman saya ini terbilang pandai, selalu juara kelas. Pada saat kuliah semester 3, ia depresi sehingga nilai-nilai anjlok. Ini seperti bukan dirinya. Ketika mendatangi rumahnya, tantenya bercerita teman saya ini udah bisa calistung sejak usia 3 tahun dan karena sudah dianggap pintar maka pada usia sebelum 7 tahun ia disekolahkan di langsung ke SD.  Saya jadi teringat materi yang saya dapatkan di seminar itu.

Selain itu, anak yang sudah diajari calistung pada usia dini kelak menjadi orang pintar yang tak menyenangkan. Mengapa?? Tunggu lanjutannya pada artikel selanjutnya…

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s