Sulitkah Toilet Training pada Balita?


toilet training
toilet training
toilet training
toilet training

 

 

“Salman mau ee? Kenapa duduk aja?”

“Enggak, Cuma pegel kaki.”

Baiklah toilet training gagal. Besok harinya…

“Salman kenapa duduk aja? Mau ee ya?”

“ Enggak. Lagi jagain ade.”

Oke toilet training …gagal lagi. Besok harinya lagi, dengan perasaan tidak sabar.

“Salman kalau mau ee langsung pergi ke kamar mandi. Jangan duduk aja, ditahan – tahan kaya  gitu.”

Ia pun langsung beranjak pergi ke kamar mandi. Dan ini terus berlangsung hingga kini di usianya yang ke 5 tahun.  Apa penyebab kegagalan toilet training ini? Apa yang salah dengan toilet training yang saya terapkan? Saat Salman berusia 2 tahun semuanya lancar – lancar saja. Setelah adiknya lahir, dia mulai menampakkan perubahan. Apakah benar kegagalan toilet training ini diakibatkan kelahiran adiknya? Cari perhatian? Jarak usia yang terlalu dekat (seperti kata ibuku). Entahlah…

Pernah mengalami kesulitan toilet training yang serupa? Saya kira memang semua anak ada tahapan seperti ini, tahapan menahan ketika ingin  buang air besar dan air kecil, seperti yang pernah saya baca dalam buku psikologi berbahasa Inggris. Namun, tidak sampai usia 5 tahun. Lalu apa yang salah dengan toilet training yang saya terapkan?

Dari beberapa penelusuran saya di google dan konsultasi bersama psikolog, begini katanya tentang kebiasaan menahan BAB:

  1. Perasaan jijik atau takut dengan fesesnya sendiri

Perasaan jijik seperti ini biasanya diakibatkan karena kondisi kamar mandi yang kotor dan tak menyenangkan. Setelah saya sempat berbicara dengan psikolog, dia menganjurkan agar dalam toilet training selalu upayakan agar kamar mandi di rumah dibuat menarik dengan gambar – gambar kartun dan cat yang menarik.

  1. Sakit akibat fesesnya keras

Biasanya ini diakibatkan oleh kurang serat atau kurang minum, sehingga ketika anak mengeluarkan fesesnya terasa keras. Ini menjadi penghambat dalam upaya toilet training sehingga anak yang konstipasi (sulit buang air besar) semakin ingin menahan BAB.

  1. Pola toilet training yang salah sejak awal

Katakanlah anda sedang  mengupayakan toilet training dan ngotot agar anak yang belum mau BAB nongkrong di kamar mandi pada jam – jam tertentu hingga sekian lama. Misalnya, seperti yang terjadi pada beberapa orang yang berhasil melatih anaknya toilet training, yaitu membiasakan anak BAB pada pagi hari, walaupun tidak ada yang dikeluarkan. Pada beberapa orang ini berhasil, tapi pola metabolism setiap anak berbeda – beda sehingga belum tentu semua anak berhasil dengan pola seperti ini.

  1. Trauma

Keinginan orang tua agar anaknya segera mandiri dalam hal toilet training sehingga memaksakan anaknya berlama – lama di kamar mandi dan ketika hasil  yang diharapkan tak sesuai, anak dimarahi. Ini dapat menyebabkan anak trauma secara psikologi. Akibat kemarahan tadi, anak malah sengaja menahan fesesnya atau menahan sekaligus mengeluarkan sehingga anak sering BAB di celana dan ketika secara sengaja mengeluarkannya di toilet, yang keluar hanya sedikit.

  1. Ganguan pencernaan

Misalnya: diare yang tak berkesudahan, gangguan syaraf tulang belakang, kencing manis, tumor anus yang kesemuany ini menyebabkan kegagalan dalam toilet training berupa BAB yang sulit terkendali.

  1. Masalah psikologi

Nah, setelah saya berkonsultasi dengan seorang psikolog (orang yang sama) tentang toilet training, saya agak menaruh perhatian dengan yang satu ini. Saya merasa yang satu ini agak sesuai dengan kondisi saya ketika anak saya mulai dengan kebiasaannya menahan BAB.

Berawal dari saat anak pertama saya latih BAB BAK di kamar mandi di usia 2 tahun dan saya menuai kesuksesan saat itu. Bayangkan betapa bahagianya saya berhasil dalam program toilet training bagi anak saya..

Setelah adiknya lahir, sekitar usia 6 bulan, kakaknya mulai menunjukkan perubahan perilaku. Dia berbicara menyerupai adiknya, berjalan menyerupai adiknya termasuk BAB mulai suka menahan.

Sementara saya sibuk dengan kedua anak yang masih kecil, ayahnya anak – anak pulang kerja dalam keadaan kelelahan dan langsung tergeletak tertidur sampai subuh lalu pergi kerja lagi. Begitu seterusnya dari senin sampai jumat.

Dari kisah perjalanan saya bersama anak – anak dan suami, psikolog yang saya temui mengatakan bahwa Salman sedang mencari perhatian akibat kelahiran adiknya. Dia mengatakan seharusnya sejak awal, ketika ibunya sibuk dengan bayi baru, sang ayah sibuk dengan Salman, si anak sulung. Ketika pola seperti ini telah terbentuk sejak awal,  maka kebiasaan menahan BAB yang masih berlangsung hingga kini dapat dihindari.

Nah, dari 6 point di atas mana yang menjadi penghambat anda dalam upaya toilet training?

sumber

http://health.detik.com/read/2011/06/08/145222/1655882/768/kenapa-anak-malas-buang-air-besar

http://www.tabloidnova.com/Nova/Keluarga/Anak/Sering-Buang-Air-Besar-Di-Celana/

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/06/terapi-bagi-encopresis-pada-anak/

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s