Bumi Mengutuk Perbuatan Zalim Manusia


Islam adalah agama samawi yang diturunkan Allah ke bumi sebagai petunjuk dan wahyu bagi umat manusia. Oleh karena itu, bila kita cermati konten dalam al-Qur’an ternyata banyak mengungkap kebenaran tentang kehidupan di dunia, baik itu menyangkut kehidupan manusia ataupun alam semesta. Menyangkut alam semesta, disini saya akan fokus pada kebenaran alam semesta yang diungkapkan dalam al-qur’an berabad-abad tahun yang lalu jauh sebelum ditemukannya ilmu pengetahuan modern seperti saat ini.
Hujan dan Kadar Air Hujan
Allah menurunkan hujan ke bumi sebagai sumber kehidupan di bumi: “Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diatur-Nya menjadi sumber-sumber di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanaman-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering lalu Kami melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (Surat Az-Zumar: 21) Pada ayat lainnya, Allah menjelaskan bahwa hujan diturunkan dengan kadar tertentu, yaitu sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan. seperti yang tercantum dalam QS. Az-Zukhruf “الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ مَهْدًا وَجَعَلَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).”
Penciptaan hujan menurut kadar tertentu seperti yang tersebut dalam QS. Az-Zukhruf:11 telah terbukti kebenarannya dengan ditemukannya alat pengukur hujan, bahwa:
1. Bahwa air hujan yang diturunkan dari awan dengan ketinggian minimum 10000 m dapat jatuh mengenai tanah dalam waktu 1 jam. Bahkan, ketinggian awan ada yang mencapai 12.000m. Namun, berapapun ketinggian awan, baik itu 10.000 m atau pun lebih, air hujan yang turun ke bumi dapat jatuh dalam waktu yang sama yaitu 1 jam. Namun, tidak demikian menurut perhitungan fisika. Apabila benda yang semisal dengan air hujan baik itu berat dan ukurannya dijatuhkan dari ketinggiana 10.000, maka dapat jatuh ke bumi dalam waktu kurang dari 1 menit. Dengan demikian, satu tetesnya benda semisal hujan memiliki efek seperti menjatuhkan benda 1 kg dengan ketinggian 110cm. Apabila air hujan diciptakan dengan efek seperti ini, maka kita membutuhkan pakaian extra aman ketika hujan turun, rumah akan rubuh, tanaman mati tertimpa air hujan. Inilah sifat Allah yang maha membuat perhitungan(al-hasiib) dan “kun fayakun” (Jadilah, Maka Jadilah Ia), sehingga air hujan yang turun ke bumi dari ketinggian berapun memiliki kecepatan yang sama dan tidak merusak apapun yang ditimpanya.
2. Air hujan yang turun dan jumlah air yang menguap berjumlah sama, yaitu sekitar 160 ton setiap detik. Ini berarti perputaran air di muka bumi berada pada siklus yang seimbang, tak berlebihan atau kekurangan. Apabila Allah menciptakan Air hujan yang turun lebih banyak dari air yang menguap, maka akan terjadi banjir setiap hari. Seperti umat nabi Nuh yang tenggelam karena banjir atau kadar air yang berlebihan. Sebaliknya, apabila air di muka bumi, baik itu dari air laut,danau,sungai dan sumber air lainnya mengalami penguapan berlebihan, maka yang akan terjadi adalah kekeringan setiap hari.
Namun, memang pada kenyataannya di kehidupan sekarang ini banyak terjadi kekeringan dan banjir berkepanjangan. Tetapi, semuanya bermula dari ulah manusia karena Allah menciptakan kehidupan di alam dengan seimbang sehingga seharusnya tidak ada banjir atau kekeringan. “Kebaikan apapun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apapun yang menimpamu, itu dari kesalahan dirimu sendiri….”(Surat An Nisa:79)
Dalam beberapa hadits dan ayat dalam al-quran disebutkan bahwa kamarau dan banjir di muka bumi datang akibat akhlak manusia yang telah keluar dari aturan Allah.
• Tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran kecuali mereka akan disiksa dengan kemarau berkepanjangan dan penguasa yang zhalim. (HR Ibnu Majah 4009)
• Maka setiap-tiap (orang, golongan, kaum atau bangsa) Kami siksa karena dosanya.Ada di antaranya yang Kami tumpahkan hujan lebat (sampai banjir besar atau berjangkitnya penyakit), ada yang dihukum dengan suara guntur dan kilat sabung-menyabung ; ada lagi yang Kami benamkan ke dalam perut bumi; dan ada pula yang Kami tenggelamkan di tengah lautan. Semuanya itu bukanlah karena Tuhan menganiaya mereka, melainkan mereka menganianya diri sendiri“ (Al Ankabut 40).
• hadis yang mengemukakan bahwa apabila sekelompok orang yang sedang duduk-duduk di suatu tempat, kemudian mereka beranjak menunaikan suatu perbuatan baik, maka setiap butir tanah yang dipijaknya akan berdoa dan meminta ampunan Allah SWT (beristighfar ) bagi mereka. Namun sebaliknya, apabila mereka terjerat kesibukan melakukan dosa, maka setiap keping tanah akan mengutuk mereka.
• Abu Hurairah RA berujar, “Ayam mati di kandangnya karena tindakan orang yang zalim“. Sedangkan Mujahid bertutur, “Binatang melaknat orang-orang yang melakukan maksiat saat kekeringan datang dan hujan tidak turun. Mereka berkata, inilah kesialan dari maksiat yang dilakukan manusia.’ Juga Ikramah berkata, “Binatang melata di bumi, termasuk serangga mengeluh, ‘Hujan tidak turun akibat dosa manusia.’ Hukuman atas dosa tidak cukup, sampai makhluk yang tidak berdosa juga melaknatnya.
Kesimpulan dari saya dengan mengutip sabda Rasulullah SAW, “Takutilah dosa, karena dosa itu akan menghancurkan kebaikan. Ada dosa yang menyebabkan rezeki tertahan, walaupun sudah dipersiapkan kepadanya“.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s